Postingan

T.I.P.S. J.K., Prinsip Bekerja yang Berhasil Mengantarkan Saya Meraih Penghargaan Pegawai Berprestasi

Gambar
Sejak tahun lalu, pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) memaksa kita bekerja dari rumah ( work from home ) dan membatasi jarak fisik di antara kita. Tetapi, dalam kesulitan pun, selalu ada berkah tersembunyi ( blessing in disguise ) jika kita mau menggalinya. Justru di saat pandemi, saya lebih leluasa berkarya dengan membuat berbagai konten informasi seputar tugas dan kegiatan instansi tempat saya bekerja, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Surabaya II, sebagai unit penyalur dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang ditujukan untuk mengedukasi para pemangku kepentingan ( stakeholders ) dan masyarakat. Sebagai administrator website sekaligus content creator media sosial KPPN Surabaya II , bekerja dari rumah justru menjadi kesempatan untuk menggali lebih dalam  passion dan menuangkan ekspresi saya di bidang jurnalistik, kehumasan, dan desain grafis. Dengan bekerja (baca: berkarya) dari rumah, saya mendapatkan fleksibilitas waktu yang hampir tidak bisa

Disiplin Membangun Citra Diri dan Organisasi (Personal and Corporate Branding)

Gambar
"Teruslah berdisiplin sampai orang lain mengira bahwa kedisiplinan diri adalah sebuah pencapaian." Saya yakin banyak dari kita mengartikan disiplin sebagai suatu 'ketertiban' atau 'ketaatan'. Tidak salah memang, karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata 'disiplin' diartikan demikian adanya. Tetapi satu hal yang sering kita lupakan bahwa disiplin juga berarti konsisten. Konsisten untuk tertib, konsisten untuk taat. Dengan kata lain, ketertiban dan ketaatan yang kita lakukan secara konsisten akan membentuk citra diri kita sebagai pribadi yang disiplin. Kedisiplinan bisa dibangun dan dilatih secara terus-menerus hingga membentuk karakter diri. Karakter apa yang ingin kita bangun? Ingatlah selalu bahwa karakter kita akan melekat sebagai citra diri ( personal brand ). Dalam tulisan kali ini, izinkan saya untuk berbagi pengalaman terkait membangun citra diri ( personal branding ) maupun citra organisasi ( corporate branding ) melalui kedisiplina

"Yank, Masakanmu Buruk!"

Gambar
Berumahtangga itu membosankan. Setiap hari yang saya lihat di rumah adalah wajah pasangan, bukannya makin muda malah makin mirip Mak Lampir. Bukannya senang, malah buat bosan. Saat menulis ini, tepat delapan tahun saya membina rumah tangga. Dalam budaya Tionghoa, angka ini -yang juga tanggal ulang tahun saya- dipercaya bisa memberikan banyak keberuntungan. Delapan tahun itu waktu yang belum lama memang, tapi setidaknya sudah melewati tahun kelima, dimana banyak orang bilang, di saat itulah fase ujian perkawinan sesungguhnya dimulai, dan kepribadian asli pasangan hidupmu terlihat jelas. Mungkin saja benar. Untungnya, saya dan istri melewati proses pacaran yang cukup lama, jadi paling tidak kami sudah mengenal karakter masing-masing. Berumahtangga itu membosankan. Setiap hari yang saya lihat di rumah adalah wajah pasangan, bukannya makin muda malah makin mirip Mak Lampir. Bukannya senang, malah buat bosan. Setiap hari juga hidup dengan kebisingan anak-anak yang berlarian dan bert

Lidah Silet, Matre, Hidup Sederhana, dan Kebahagiaan

Gambar
Pada suatu kesempatan sharing session  di tempat tugas saya, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Surabaya II , yang diadakan setiap Senin pagi sebelum memulai aktivitas pekerjaan, saya mendapatkan giliran untuk menyampaikan cerita motivasi dan inspirasi. Asal tahu saja, dalam kegiatan ini, setiap pegawai diberikan gilirannya masing-masing, satu orang setiap kegiatan. Saat itu saya menyampaikan cerita, atau lebih tepatnya sebuah sajak, yang saya berikan judul THINK Before You Speak , yang dalam Bahasa Indonesia berarti 'berpikirlah sebelum berbicara'. Namun saya sengaja tidak membuatnya dalam Bahasa Indonesia, karena kata ' THINK ' sendiri memiliki makna. Berikut isi sajak yang saya bacakan di depan kolega saat itu: THINK Before You Speak Lidah itu tak bertulang. Konon katanya lidah lebih tajam daripada silet. Rekan, ada alasan kenapa Allah menciptakan sepasang mata, sepasang telinga, sepasang tangan, dan sepasang kaki… namun hanya satu mulut. Suatu hari nanti,

"Kakak Rindu Teman-Teman dan Bu Guru"

Gambar
Sudah sekitar empat bulan sejak penerapan kebijakan Belajar dari Rumah oleh Pemerintah. Sebelum pandemi, mungkin tak pernah sekalipun terpikir oleh kita bahwa anak-anak akan mengalami masa-masa seperti ini. Tanpa adanya persiapan, bisa dipastikan mental orang tua dan anak-anak akan terbebani dan stressful . Saya sendiri tak pernah menyangka akan mendengar putri sulung saya yang baru saja naik ke TK B beberapa kali berkata, " Ayah, Kakak rindu teman-teman dan Bu Guru di sekolah. Kapan virus Corona-nya hilang? " Maka jawaban saya konsisten dan sederhana saja, " Sabar ya, Kakak. Berdoa saja supaya vaksinnya cepat ketemu dan virusnya bisa cepat hilang biar Kakak bisa main-main lagi sama teman-teman, dan bisa jalan-jalan lagi ke mall sama Ayah, Bunda, dan Adik. " Baca juga: Jika Pandemi COVID-19 Berakhir Saya ingat saat masa kanak-kanak dulu pada masa liburan sekolah, terkadang ada rasa rindu suasana sekolah dan teman-teman, meski sebenarnya mungkin saya