Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Keluarga Besar itu Bernama KPPN Surabaya 2

Gambar
  "Lingkungan kerja yang baik adalah lingkungan kerja yang memberikan kesempatan kepada setiap pegawainya untuk menghasilkan karya terbaik dan sekaligus mengembangkan potensinya." Sebelum memulai cerita pengalaman saya bersama Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Surabaya II, terlebih dahulu saya akan membawa Anda bernostalgia ke pertengahan Januari tahun 2018. Saat itu nama saya muncul di Surat Keputusan (SK) mutasi dari Kantor Pusat Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb). SK tersebut mengakhiri masa tugas saya setelah sekitar lima tahun menjadi bagian dari KPPN Banda Aceh. "Selamat ya, Bang! Abang pulang kampung ke Surabaya. Pasti senanglah Abang!" ujar salah satu rekan kerja junior saya saat itu. Kepindahan tugas saya ke KPPN Surabaya II banyak mendapatkan sambutan positif karena Surabaya adalah kota kelahiran kedua orang tua sekaligus tempat keluarga besar saya berada. Selain itu saya sebelumnya telah menghabiskan 15 tahun masa pengabdian saya di pul

Matur Nuwun, Suroboyo! Sampurasun, Bandung!

Gambar
Jumat malam, 2 September 2022. Saya dan istri baru saja merebahkan diri di kasur empuk di kamar tidur kami, berharap ingin melepas sejenak penat setelah berkutat dengan tumpukan Surat Perintah Membayar (SPM) yang dari pagi hingga sore hari harus segera diproses, ditambah dengan tugas tambahan saya sebagai pengelola kehumasan dan content creator untuk media sosial tempat saya bekerja, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Surabaya II . Baru juga mengaktifkan smartphone untuk membaca ringkasan berita ekonomi dan investasi yang selalu muncul di timeline browser , ketika istri saya tiba-tiba berkata sambil setengah berteriak, "Hah, ada SK mutasi!" Tempat tugas saya di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang memang menerapkan kebijakan "bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI" kepada pegawainya sering kali membuat topik sensitif semacam mutasi dan promosi menjadi hal yang unik dan selalu sukses membuat jantung 'dag-dig-dug' cemas. Tak harus cemas si

Seandainya Dahulu Saya ... (Sebuah Penyesalan)

Gambar
Manusia itu banyak kekurangannya, dan tak ada satupun yang sempurna. Tidak asing dengan kalimat itu kan?! Entah kenapa, belakangan ini kalimat itu sering muncul di benak saya. Tidak sampai mengganggu, cukup untuk dijadikan bahan renungan saja. Setiap orang memiliki kekurangannya masing-masing, meskipun terkadang karena adanya perasaan terlalu kagum; terlalu cinta; terlalu sayang; fanatik; atau terlalu percaya, kekurangan orang seringkali tidak nampak di mata kita atau kita sendiri yang membutakan diri akibat terlalu banyak menggunakan hati ketimbang logika. Bagaimanapun, yang namanya "Terlalu" alias berlebihan memang tak baik, bukan?! Jika sudah "Terlalu" kemudian ternyata sosok yang kita banggakan; kita cintai; kita kagumi; atau kita percayai itu tidak sesuai dengan bayangan atau impian kita, maka muncullah yang namanya penyesalan. Penyesalan itu sesuatu yang wajar sebagai manusia yang tak sempurna. Baru menjadi masalah saat penyesalan itu seringkali muncul. Terkad